Carbon Footprint

Apa itu Carbon Footprint (jejak karbon) ?

Semakin sulitnya kita menemukan sumber daya alam seperti energi minyak bumi
yang semakin lama ternyata kian tipis. Kenyataan ini terbukti untuk Indonesia,
yang telah empat puluh tahun menjadi eksportir minyak, kemudian menjadi
importer, karena produksi minyak Indonesia di bawah 1 juta barel per hari.

Ketika terjadi penipisan sumber daya minyak bumi, sementara kebutuhan tetap
tinggi, kelangkaan akan terjadi sehingga hukum ekonomi tentang pasokan (supply)
dan permintaan (demand) berlaku dalam hal ini. Secara global, selain sumber daya
minyak) yang semakin tipis, pertumbuhan ekonomi dan populasi penduduk bumi yang
semakin pesat juga akan memicu krisis energi dunia. Sebab, fakta yang berlaku,
ketika pertumbuhan ekonomi maju, hal ini akan segera mengubah perilaku manusia
dalam peningkatan konsumsi energi dan gaya hidup.

Pada masa sekarang, sesuai dengan life style kebanyakan semua orang cenderung ingin
hidup lebih nyaman: mereka membeli mobil, kendaraan bermotor, memasak menggunakan
minyak tanah dan gas, menggunakan AC (pendingin) atau pemanas udara yang semuanya
menggunakan energi minyak bumi yang notabene tidak dapat tergantikan, karena minyak
bumi yang diambil dari fosil seperti bahan bakar minyak mentah.

Efek negatif dari energi ini akan menghasilkan pencemaran lingkungan berupa emisi
karbon  dioksida (CO2), yang memicu perubahan iklim dan pemanasan global.

Di Indonesia, tren pemakaian mobil tidak berkurang. Ketika harga minyak naik,
masyarakat kelas menengah berlomba-lomba membeli mobil, karena khawatir harga mobil
pun akan melonjak. Jadi, perilaku manusia modern yang cenderung ingin bergaya hidup
“lebih baik” semakin melaju pesat.

Peningkatan ekonomi berdampak pada kemampuan daya beli dan tren konsumen modern
untuk mengikuti jejak negara-negara maju.Perilaku yang tidak berubah ini akan terus
menjebak kita semua pada persoalan krisis energi dan lingkungan yang berkelanjutan.

Carbon Footprint (Jejak Karbon)
Jadi, krisis energi dan lingkungan adalah dua sisi dari satu mata uang. Di lain
pihak, perubahan perilaku tecermin dari gaya hidup: bahwa setiap individu manusia
di muka bumi ikut berkontribusi mencemari bumi dan membuat penipisan sumber daya alam.

Salah satu tolok ukur yang dapat memberikan penyadaran pada kita (secara individu),
keluarga, maupun kolektif adalah mengukur Carbon Footprint. Kita bisa pula menghitung
Carbon Footprint dengan mengkalkulasi perjalanan sebuah produk yang awalnya datang dari
pabrik yang mengolahnya dengan energi (mengeluarkan emisi karbon) hingga produk tersebut
sampai di toko.

Carbon Footprint biasanya dihitung dalam jumlah ton karbon atau ton karbon dioksida
yang dikeluarkan dalam satu tahun. Banyak versi cara menghitung jejak karbon ini.
Yang jelas, cara ini akan memberikan gambaran berapa sesungguhnya jumlah  sumber
daya alam yang langsung digunakan, mengkonversinya dengan emisi karbon yang terlepas,
dan dengan demikian diharapkan manusia bisa membatasi diri untuk tidak berperilaku
boros dan konsumtif.

Seseorang yang hidup dan bergantung pada mesin, seperti menggunakan mobil, kendaraan
bermotor, AC, membangun rumah yang lebih besar dan mewah, tentu akan berkontribusi
lebih besar terhadap emisi karbon. Sebaliknya, perilaku sederhana, tidak boros,
tidak konsumtif, serta hemat energi tidak menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil
akan meminimalkan emisi dan pencemaran terhadap lingkungan, sekaligus menghemat
sumber daya.Standar yang digunakan untuk pengukuran karbon dilakukan untuk mengukur
gaya hidup dan konsumsi langsung individual terhadap barang dan jasa.
kadang ada juga yang menghitung dengan pendekatan yang berbeda atau lebih detail)
Basic Standar perhitungan Carbon Footprint Misalnya : 1)energi, 2) perjalanan
dengan menggunakan motor/mobil, 3) perjalanan dengan menggunakan pesawat,  dan
4) pola konsumsi (diet).

Perhitungan dimulai dengan berapa keluarga yang ada di rumah Anda, lalu apakah Anda
tinggal bersama keluarga atau  hanya merupakan keluarga inti, lalu berapa jumlah
kamar tidur di rumah atau apartemen tempat Anda tinggal.

Pengukuran juga dilakukan untuk menghitung pengeluaran karbon yang Anda gunakan
dalam setahun yang dinilai dari jumlah frekuensi Anda bepergian baik dengan
kendaraan bermotor maupun naik pesawat udara.

Mereka yang hanya memakan sayur-sayuran (vegetarian) dipastikan mempunyai emisi
karbon lebih rendah dari pemakan segala (omnivora). Sebab, hanya mengkonsumsi sayur dan
buah mempunyai nilai buang karbon lebih rendah dibanding bila seseorang memakan segala
macam makanan karena diperlukan akomodasi dan buangan karbon yang lebih besar untuk
mencukupi gaya hidup seseorang dengan pola pemakan segalanya.

Untuk anda yang ingin mengetahui seberapa banyak (dalam satuan ton) emisi carbon yang
anda keluarkan dalam 1 tahun mendatang, maka kalkulator karbon dibawah ini dapat meng
hitung secara global, seberapa banyak emisi carbon yang anda keluarkan ?, meskipun
tidak terlalu akurat 100% tapi setidaknya anda dapat mengukur seberapa banyak anda ikut
menyumbang pemanasan global bumi tercinta ini ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s